Edisi Oktober 2007

Vol I No 11



kabharmadhura.blogspot.com mengucapkan
taqabbalallaahu minna wa minkum
Selamat Hari Idul Fitri 1428H
mohon maaf lahir dan batin
semoga taubat dan ibadah kita diterima Allah SWT


LOMBANGKU SAYANG, LOMBANGKU MALANG

Menyusuri pantai Lombang, yang tampak ranum dengan dedaunan cemara udang, kini hanya bersisa sekitar radius sekitar 650 meter, setelah itu hamparan pasir yang meranggas dan ratusan pohon cemara udang dalam posisi jumpalitan, akibat penebangan liar.
Jarang wisatawan memperhatikan hal ini, karena posisi rusaknya hutan cemara, berada di luar radius pusat hutan Lombang, namun bagian penting dari Pantai Lombang.
Dipantai ini pula, ditemui sejumlah belahan kayu cemara udang, untuk dijadikan kayu bakar. Menurut Muri, warga Lombang, tumpukan kayu tersebut, merupakan hasil penebangan yang dilakukan warga atas cemara miliknya. Namun ada juga yang dilakukan oleh warga, yang menebang secara liar.
”Di sini bebas Mas, siapa pun bisa melakukan apa saja, buktinya rakyat bisa punya hak milik atas pantai. Padahal aturannya kan tak boleh,” ujar Mori. Akibatnya ribuan pohon cemara udang, dikuasai pribadi dan diperjual belikan secara membabi buta. Itulah yang menyebabkan ribuan pohon cemara udang lenyap dari Pantai Lombang. Kini yang tersisa hanya bekas cangkokan potongan cemara udang, yang kemudian dijadikan kayu bakar oleh warga, sejak harga minyak tanah membumbung tinggi. ..... selanjutnya >>

PEMUDA PELOPOR JAWA TIMUR ASAL PAMEKASAN

Prestasi yang diraih Hendry Darmawan, 28, asal Desa Buddih, Kecamatan Pademawu, patut dibanggakan. Atas keberhasilannya memodifikasi kincir angin, dia terpilih sebagai pemuda pelopor yang akan mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional.
Latar belakang pendidikan terkadang tidak memengaruhi kemampuan seseorang. Begitulah yang dialami oleh Hendry Darmawan. Meski hanya berlatar belakang lulusan STM (sekolah teknik menengah), dia mampu menunjukkan karya besar. Yakni, memodifikasi kincir angin yang konvensional menjadi fleksibel.
Prestasi itu mendapat apresiasi dari banyak pihak. Termasuk dari tim dewan juri pemuda pelopor tingkat Jawa Timur. Prestasi Hendry mencuri perhatian dewan juri yang kemudian memberinya tiket menuju tingkat nasional.
Untuk menuju tingkat nasional, pria yang kini telah berputra itu harus berjuang keras mengikuti berbagai ujian. Termasuk, ujian lapangan yang dilakukan tim dewan juri pemuda pelopor tingkat nasional dari Jakarta. Kemarin tim dewan juri dari Jakarta mendatangi Hendry untuk "menginterogasi" seputar karya besarnya.
Bertempat di Balai Desa Buddih, Kecamatan Pademawu (8 km arah tenggara Kota Pamekasan), Hendry secara lugas memresentasikan hasil karyanya. Menurut dia, karya yang dihasilkannya itu diperoleh dari inspirasi saat mengunjungi lahan pegaraman. "Saya melihat kincir angin yang ada selama ini hanya mengandalkan angin satu arah. Makanya, saya berpikir untuk memodifikasi agar arah kincir angin bisa dari berbagai arah," katanya meyakinkan.
Untuk memodifikasi kincir angin agar bisa menerima angin dari berbagai arah itu, Hendry memodifikasi bagian mekanik kincir. Jika sebelumnya tak menggunakan kemudi, dengan hasil karyanya Hendry membuatkan kemudi. "Kemudi itu akan bisa diterpa angin dari segala arah. Untuk memudahkannya, di dalam kincir angin kita pasangkan as atau sejenis roda agar bisa leluasa berputar," terangnya.
Alhasil, Hendry pun menjadi orang pertama yang mampu memodifikasi kincir angin agar lebih fleksibel. "Saya tidak pernah berpikir untuk mematenkan temuan ini. Sebab, saya semata-mata ingin membantu warga saja," terangnya polos. "Kincir angin fleksibel ini bisa bermanfaat untuk bidang industri, seperti garam dan home industry, pertanian, perkebunan untuk menyiram tembakau, maupun untuk memelihara ikan di tambak," sambungnya. ..... selanjutnya >>

MUSAFIR DI BATU AMPAR

Seorang musafir mengurai waktu di perbukitan tandus Batu Ampar, Pamekasan. Di antara nisan makam dan sunyi, Huda (49), sang musafir itu, membenamkan diri dalam doa.
Pria berperawakan kurus asal Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, itu genap sebulan tinggal di Pesarean Batu Ampar Barat. Pesarean Batu Ampar Barat adalah kompleks pemakaman keluarga kiai-kiai keturunan Syech Abdul Manan, yang sering disebut sebagai Buyut Kesambi. ..... selanjutnya >>

0 Comments:

Post a Comment

<< Home